It’s like I will never be a good friend.
Even to myself.
| Bintang Aulia: | dan aku gapernah galau kee di twitter :p |
| Saya: | =)) =)) =)) IH NYINDIR YAAAAA, siyal :)))))))))) Waktu itu pernah kok, yang kita rc bikin galau setimeline raya wkwk |
| Bintang Aulia: | HAHAHAHAHAHAHA =)))))))) ya itu kan ada yang ngajakin makanya ngegalau deh :p |
| Saya: | LEBIH SIYAL LAGIIII =))))) |
Di sana, kau berjalan.
Tanpa kendali, tanpa peduli. Desah permohonan dan airmata bagimu tak ada arti. Sesal yang diucapkan ribuan kali juga takkan membuatmu berhenti. Tak seorang pun, bahkan yang kau agungkan sebagai raja, presiden, permaisuri, maupun perdana menteri, mampu memerintahkanmu walau hanya sekali.
Halo, waktu.
Tidak, kau tidak perlu menoleh, aku pun tak mengharapkan kejadian mustahil macam itu dapat kuperoleh. Aku juga tak akan membesarkan volume suaraku hanya untuk memastikan kau mendengar pernyataanku. Tidak, tenang saja. Aku hanya ingin bercerita. Tentang kau. Tentang kita. Tentang semua hal yang ingin kuceritakan.
Waktu.. Sudah berapa jauh kau meniti jalanmu, saat aku sibuk melakukan apa yang tak seharusnya kulakukan? Pasti sudah jauh sekali, ya. Mungkin ribuan kilometer, bila kita menganggap satu sentimeter-mu adalah satu jam di kehidupan kami.
Kau pasti sudah menjadi saksi, ya, Waktu. Sudah berapa umurmu, dari zaman yang sama-sama kita tahu hingga sekarang, saat aku mulai dan kini berjanji mengakhiri menyakiti orang-oeang yang kusayang? Orang-orang yang banyak mengajarkan hal-hal penting di kehidupanku, orang-orang yang selalu ada untukku.. Ibuku, ayahku, adik perempuanku, kakak perempuanku, dan sahabat-sahabatku?
Kau tahu, Waktu?
Aku menyesal.
Aku sungguh menyesal, kuharap aku masih bisa berjalan beriringan denganmu hingga ratus ribu kilometer ke depan, untuk memerbaiki kesalahanku, untuk menjadi yang terbaik dariku, seiring bertambahnya jarak perjalanan kita.
Sampaikan maafku pada orang-orang yang kusakiti, ya, Waktu, jika aku tak mampu mengejarmu.
Hai selamat bertemu lagi
Aku sudah lama menghindarimu
Sialku lah kau ada di sini
Sungguh tak mudah bagiku
Rasanya tak ingin bernafas lagi
Tegak berdiri di depanmu kini
Sakitnya menusuki jantung ini
Melawan cinta yang ada di hati
Dan upayaku tahu diri tak selamanya berhasil
Pabila kau muncul terus begini
Tanpa pernah kita bisa bersama
Pergilah, menghilang sajalah lagi
Bye selamat berpisah lagi
Meski masih ingin memandangimu
Lebih baik kau tiada di sini
Sungguh tak mudah bagiku
Menghentikan segala khayalan gila
Jika kau ada dan ku cuma bisa
Meradang menjadi yang di sisimu
Membenci nasibku yang tak berubah
Dan upayaku tahu diri tak selamanya berhasil
Pabila kau muncul terus begini
Tanpa pernah kita bisa bersama
Pergilah, menghilang sajalah lagi
Berkali-kali kau berkata kau cinta tapi tak bisa
Berkali-kali ku telah berjanji menyerah
Dan upaya ku tahu diri tak selamanya berhasil
Dan upaya ku tahu diri tak selamanya berhasil
Pabila kau muncul terus begini
Tanpa pernah kita bisa bersama
Pergilah, menghilang sajalah
Pergilah, menghilang sajalah
Pergilah, menghilang sajalah lagi
Semacam.. Apa ya. Saya kira saya nggak sendirian.
Ternyata saya sendirian.
Semua berubah, saya tahu kok, saya bener-bener ngerti. Tapi katanya, malem berubah jadi siang terus berubah jadi malem lagi? Katanya roda kehidupan berputar, suatu saat di atas, saat lain di bawah, nanti ke atas lagi?
Bukannya mau berubah gimanapun, bisa ada jalan buat balik lagi?
Boleh ngga, kalo saya bilang segala pepatah itu kaya ga berlaku buat saya… Atau mungkin saya yang kurang sabar, kurang lama nunggu… Saya tahu dunia adil, dan mungkin keadilan buat saya adalah nunggu lebih lama. Nunggu lebih lama biar semuanya balik lagi, berubah lagi, kaya sediakala.
Atau mungkin, yang harus berubah bukan lagi kenyataan, tapi saya. Saya yang harus berubah, nerima, kalo mungkin malamnya ga bakal jadi siang lagi. Jadi saya harus nyalain api sendiri buat ngebuat siang pribadi.
Iya, sendirian.